Aku dan kenanganku
Ketika mendengar hujan aku
selalu mengingatmu. Ketika bentuk kesatuan yang saling melekat dan membawaku
dalam diam yang lama. Aku suka hujan, aku suka kamu. Kehilanganmu adalah
kehilanganku akan hujan. Akankah itu terjadi?
Aku berjalan , merasakan titik
titik air yang jatuh dari langit mulai membasahi kepala, bahu, dan wajahku.
Mula mula aku hanya diam, lalu perlahan menengok langit yang gelap. Aku masih
diam ketika hampir semua orang di dekatku berlarian menghindari hujan. Bergegas
mencari tempat berteduh. Bahkan yang sudah memakai payungpun masih berjalan
cepat, hanya karena mereka tidak ingin basah oleh air hujan. “Ah, orang ini”.
Keluhku dalam hati. Aku menepi bukan untuk menghindari hujan, aku menepi untuk
memberi jalan kepada mereka yang bergegas. Sebab aku ingin menikmati hujan
tanpa mengganggu orang lain.
Aku memejamkan mataku, beberapa
saat saja kubiarkan aku hidup dalam dunia hujanku sendiri. Aku tersenyum,
“Tuhan, terima kasih untuk hujan hari ini.”
Tak peduli, sudah biasa bagiku melihat orang orang memandangiku dengan
aneh dari tempat mereka berteduh ketika hujan turun. Makin deras, aku bahkan
terkesan melambatkan langkahku dan ku akui itu memang benar. Aku suka hujan,
sudah kubilang bukan?
Basah bukan hal yang perlu untuk dipermasalahkan, basah adalah resiko
yang harus ku hadapi karena aku menyukai hujan.
Langkah kakiku menapak seirama
hujan. Aku memandang jalanan didepanku. Tidak tau harus memikirkan apa, aku
hanya tau aku sedang bahagia karena hujan dan aku..” ah iya kamu.., hujan itu
kamu, selalu ada kamu dalam pikiranku ketika hujan seperti sekarang ini. Aku
semakin melambatkan langkahku seirama dengan alur alur cerita tentang kamu yang
sedang berebutan untuk kususun dan ku kenang kembali.
Kamu adalah hujanku, padahal
aku ingat dengan jelas kalau kamu bahkan sama sekali tidak suka hujan. Lalu
kenapa bagiku kamu adalah hujan? Entahlah, akupun tak tahu. Kulanjutkan
langkahku dan berusaha mengingat kenangan yang baik saja. Aku tersenyum. Yah,
kenangan indah, aku mengusap usap kedua telapak tanganku di depan wajahku. Aku
rindu kamu padahal sekarang ada hujan. Aku rindu ketika kamu tersenyum, kamu
marah. Apapun ekspresi itu jika milikmu maka aku merindukannya. Tapi masihkah
boleh ku merindukanmu, ketika kamu bahkan entah masih mengingatku atau tidak.
“jangan ada hujan diantara
kita. Aku tidak suka hujan, basah, jalanan licin, macet, belum lagi kalau
banjir, ribettt”
Sebesar itukah rasa tidak
sukamu terhadap hujan? Lalu kalau aku menurutimu karena aku menyukaimu. Apakah
itu berarti aku juga harus tidak menyukai hujan? Aku menggelengkan kepalaku.
Aku tidak mau. Aku menyukaimu tapi aku juga menyukai hujan, aku ingin menyukai
keduanya.
“diluar hujan de” katamu pelan
sambil memandang kearahku ketika itu “Tangerang hujan seharian ini, menyebalkan
tapi kamu pasti malah suka?” gerutumu sambil melangkah menjauh dari pintu.
Aku tersenyum, aku tau aku
boleh menyukai keduanya. Kamu memahami aku yang menyukai hujan. Aku masih ingat
kalau aku melangkah mendekat kepintu, merepet mendengarkan suara hujan tanpa
bisa melihatnya. Tapi ketika itu aku bahagia sekali. Kamu memberikanku waktu
mendengarkan lagu hujan meski kamu tidak suka hujan.
***
“kenapa sih kamu itu suka
banget hujan? Heran, ko ada ya orang yang suka hujan seperti kamu?” aku tersenyum lebar, kamupun penasaran
rupanya. Makin penasaran karena aku hanya menjawab tidak tahu tanpa mengalihkan
pandanganku pada hujan yang tidak bisa kamu lihat. Kamu mengamatiku, geleng
geleng kepala dan kembali dalam dunia game sepak bola yang begitu kamu sukai.
Aku merangkai huruf huruf dan
merangkainya menjadi alas an untuk menjawab pertanyaanmu, tapi ketika aku ingin
bicara, sedetikpun kau tak lagi menoleh kearahku. Semua perhatianmu berada
dalam game yang tengah kamu mainkan.
Aku tidak tahu apa pertanyaanmu
ketika itu benar benar tulus penasaran atau hanya pertanyaan mengambang yang
diucapkan tanpa peduli pada jawaban yang akan kuberikan, seperti sekedar basa
basi. Tapi yasudahlah buat apa memperdebatkan itu lagi. Aku tidak mau menyia
nyiakan hujan kali ini. Aku mau
menyusun huruf huruf itu lagi. Aku,
hujan, kamu. Aku menyukai hujan karena hujan yang membuatku menyadari kalau aku
menyukaimu. aku menyukai hujan karena hujan
menahanmu lebih lama bersamaku. Hujanlah yang mendekatkan kita. Hujan yang
membuat aku bisa memandangmu.
Aku tahu benar bahwa kamu sama
sekali tidak menyadari itu. Haruskah aku membuatmu menyadari itu dengan caraku.
Aku tak pernah menyerah meski kamu selalu membuatku mendekatibtitik batas
kesabaranku. Haruskah ku lakukan itu? Haruskah ku tinggalkan kamu setelah semua
usahaku mempertahankanmu makna “kita”. Tidak, aku menyukaimu dan tidak ingin
kehilanganmu. Melakukan banyak hal bersama denganmu.
***
“lihat de, bintang bintang itu.”
Katamu pada suatu masa yang kita lewati ketika duduk berdua di bukit bintang
Aku mengamati langit “tidak ada
bintang”
“itu karena mendung. Teman teman hujanmu itu yang menyembunyikan
bintang.”
Aku beralih memandangmu, “lalu
bukan salah hujan ka”
Tanganmu menepuk bahuku pelan, memotong ucapanku. Kamu buat aku melihat
kearah lain yang sedang kamu tunjuk apa yang kamu sebut itu. Aku terpaku
mendapati kerlipan lampu lampu kota Tangerang yang menyebar megah dibawah sana,
dan juga lampu lampu kendaraan yang bergerak lambat di kejauhan sana, kerlip
kerlipnya benar benar indah. Seperti taburan ribuan bintang
Yang beralih tempat.
“bintang bintang itu bintang
bintang yang jatuh dari langit karena ulah hujanmu. Mereka seperti putri putri dari
kayangan yang diusir kebumi. Dan kamu tau kan de siapa yang mengusirnya?”
“hujan?”
Kamu mengangguk, “itulah kenapa
aku benci hujan” sesaat ekspresimu begitu serius. Sejahat itukah hujan
dimatamu? Tapi mendadak tawamu pecah. Dengan tanpa dosa kau mengusap usap
kepalaku memberantakan rambutku dan dengan tangan yang sama kau menarikku dalam
rangkulanmu.
“jangan terlalu serius”
bisikmu.
Tapi aku diam bersembunyi dalam
rangkulanmu pikiranku menjabarkan semuanya.
Sejak awal ku tau kamu benci
hujan, kamu akan selalu punya alasan untuk membenci hujan, tapi aku juga akan
selalu punya lebih banyak alasan lagi untuk membela hujan. Kadang kita
memperdebatkan itu dengan serius. Lebih banyak berakhir dengan aku yang
mengalah diam. Bertengkar denganmu sama seperti bertengkar dengan hujan dan
keduanya sama sama buruk, aku hanya ingin tetap bertahan untuk menyukai hujan
dan juga tetap bertahan disampingmu.
Bertahan disampingmu? Lalu
sekarang? Aku menyeka air hujan yang mengalir turun dari dahi kemataku. Aku
tidak menangis. Tidak ku biarkan hujan melihatku menangis. Aku menyeka wajahku
makin sering, makin cepat dan langkahku menjadi bergegas, mataku panas. Tidak
aku tidak menangis.
**
“kenapa selalu memperdebatkan
soal perhatian dan kepedulian? Kamu tau aku sibuk de, tidak punya cukup banyak
waktu untuk terus menerus memperhatikanmu, dewasalah jangan kekanak kanakan.
Dengan lelah aku memandangmu.
“bukan empat puluh jam waktumu yang aku minta, Cuma beberapa detik, tapi itupun
tidak pernah, hubungan kita berjarak. Tidakkah itu semua sudah cukup membuat
segalanya sulit, lalu apa salahnya kalau aku minta sedikit saja perhatian
lebihmu untukku, aku Cuma ingin tetap berada dalam lingkar waktu dua puluh
jammu meski Cuma sedetik dua detik, kekanak kanakah kalo seperti itu?
Kamu menatapku dengan matamu
yang bersorot tajam sebelum mengalihkan pandanganmu kearah lain selanjutnya tak
ada kata kata lain yang keluar dari mulutmu, kamu diam hanya menatap lurus ke
jendela yang berembun karena hujan yang turun di luar sana, aku mencoba membaca
apa yang ada dipikiranmu, tapi aku tak bisa aku tak pernah bisa melakukannya.
Apa aku menangis? Bukan ini air
hujan, ini bukan air mata ya ini air hujan, kulangkahkan kakiku cepat. Entah
kenapa sesering apapun aku memikirkanmu yang ada aku selalu berakhir dengan
kenangan kenangan buruk yang membuatku menangis, perdebatan perdebatan tanpa
ujung, masalah masalah kecil yang entah kenapa meluber menjadi seperti banjir
yang pada akhirnya akan menenggelamkan semua kenangan kenangan indah.
Hujanpun sedikit demi sedikit mulai mereda, aku mengusap wajahku yang
penuh dengan air hujan itu dan mulai melupakan semua tentangmu yang selalu
berakhir dengan air mata.
Sesampainya dirumah aku
bergegas untuk mengganti pakaianku yang basah dan merebahkan tubuhku di tempat
tidur. Aku dan keluarga baru saja pindah dari Tangerang ke kompleks daerah
Bogor ini sekitar 2 hari yang lalu,
“huhh… lelah sekali hari ini, tapi aku bahagia karena hujan turun hari
ini yang sudah lama aku tunggu-tunggu”. Ketika aku sedang mengingat kenangan
kenangan tadi tidak lama kemudian ibuku memanggilku dan menyuruhku untuk makan
malam. “Raaay, raya kemari nak, ayo kita makan malam bersama”seru ibu.
“iya sebentar bu”. Jawab raya.
Sesampainya di ruang makan…
“apa kamu tidak lapar nak, dari pagi kan kamu tidak sarapan”Tanya ibu.
“lapar bu, tapi tadi raya sudah makan ko di warung makan dekat sekolah” jawab Raya.
“iya syukurlah kalau begitu, oh ya tadi ibunya ka irsyad nelpon ibu”kata Ibu,
“terus terus ibu ka irsyad bicara apa aja bu?”kata Raya penasaran.
“yaa nanya kabar dan nanya kita sekarang tinggal dimana soalnya mereka
mau main kesini katanya sih mau liat rumah baru kita”jawab Ibu. “kapan bu kapan
mereka mau kesini”sahut Raya. “ibu juga belum tau nanti dia akan mengabari
kalau mau kesini, hmm sepertinya kamu sangat senang sekali mereka mau kesini”
sahut ibu. “ya senanglah bu kan kita sudah lama tidak bertemu keluarganya ka
irsyad”kata Raya. “hmm keluarganya ka irsyad apa ka irsyadnya doang?”Tanya Ibu
sambil tersenyum lebar. “ahh ibu bikin malu saja, sudahlah bu aku ingin ke
kamar”jawab raya tersipu malu.
***
kriiing... kriiing... suara telpon rumah Raya berbunyi. Raya bergegas untuk mengangkat telpon tersebut. "Assalamualaikum halo"jawab Raya. "iya Waalaikum salam bu Anisa ya?" tanya penelpon. "bukan bu ini anaknya, ini dengan siapa ya? kata Raya. "Oh Raya ya, ini ibunya ka Irsyad nanti siang Ibu mau main ke rumah kamu tolong smsin alamatnya ya"jawab penelpon. "oh ibu ka Irsyad iya iya bu nanti Raya smsin alamatnya"kata Raya.
***
tok.. tok.. tok..
tidak lama kemudian keluarga Ka Irsyadpun datang ke rumahku, aku dan ibu menyambut mereka dengan senang hati.
"Wah Raya sudah besar ya sekarang, tambah cantik aja" kata Ibu ka Irsyad. "ah ibu bisa ajadeh". kata Raya tersipu malu. "oh iya Irsyad kenapa ngga ikut bu?" kata Ibunya Raya. "Irsyad.. Irsyad sudah meninggal bu setahun yang lalu dia terkena penyakit asma kronis"kata Ibu ka Irsyad sambil menahan air matanya. "Hah meninggal?Innalillahi wainna ilaihi rojiun"kata Raya sambil meneteskan air matanya dan langsung bergegas ke kamarnya.
***
"ya Allah kenapa secepat ini ka Irsyad pergi. Banyak sekali kenangan kenangan yang aku ukir dengan ka Irsyad, semoga ka Irsyad diberi tempat yang paling indah disana Aamiin" kata Raya sambil memandangi foto ka Irsyad
Tidak ada komentar:
Posting Komentar